Jumat, 30 September 2011

Wayang Babar Jati Diri

Jika ada lakon kisah pewayangan "Semar Babar Jati Diri", maka tulisan berikut adalah sekedar kupas kulit bawang pemaparan lebih luas akan peran dari kisah pewayangan itu sendiri, sebagai upaya "membabar" dan menemukan kesejatian diri sebagai manusia. Wayang Babar Jati Diri. Karena manusia terlalu sering "lupa diri".

* * *

WAYANG sebagai warisan khazanah leluhur dan budaya luhur bangsa adalah produk local genius yang memang sungguh genius. Sebagai mahakarya lintas waktu yang adiluhung, wayang merupakan peninggalan  turun-temurun para cendekia nan arif dan waskita, yang jika ditimbang dengan neraca pencari makna bernilai jauh lebih tinggi dan mulia dari timbunan gunung harta karun atau mahkota raja. Teristimewa bagi para pencari pencerahan yang selalu haus menyelami lautan ilmu pengetahuan untuk mereguk hikmah kebijaksanaan.  Pun bagi mereka yang memiliki jiwa ksatria perwira, seolah terpanggil dan selalu merindu untuk terus mengerjakan 'laku' kebajikan, dengan teguh berpegang pada nilai kebenaran dan norma kebaikan yang diyakininya, demi tugas mulia turut memelihara ketenteraman dunia, 'hamamayu hayuning buwono', seraya mencari dan terus mencari hingga menemukan kedamaian di palung paling dasar jiwa di dalam relung hati.

Ketika Bhima diutus mencari Tirta Amerta alias air kehidupan abadi, jauh ia mengelana sebagai bakti murid mematuhi perintah guru yang sangat ia hormati, Resi Durna, sang 'guru bangsa'  Hastinapura. Setelah tersasar mendaki gunung dan memasuki hutan belantara, akhirnya ia tiba di tepi pantai dan terus berjalan ke tengah laut hingga terbenam ke dasar samudera, dimana ia bertemu makhluk kerdil Dewa Ruci yang sangat serupa dirinya namun dalam ukuran sangat kecil, hanya sebesar kelingking, yang memberitahu bahwa ia mendapatkan petunjuk salah dan menyesatkan.

Tirta Amerta yang kerap diyakini jika diminum bisa membuat seseorang hidup abadi serta mengetahui segala hal, sesungguhnya adalah perlambang pencarian jati diri yang tiada henti. Karena manusia baru bisa dikatakan 'hidup' jika ia telah mengenal dirinya sendiri, apakah arti kehadiran dan untuk misi apa ia ada di dunia, tugas dan peranan yang telah menanti, lelakon yang semestinya dijalani, dan hikmah apa yang bisa dipetik dari berbagai peristiwa yang ia hadapi. Maka setelah memberi wejangan dan pencerahan, Dewa Ruci menitahkan Bhima untuk 'memasuki' dirinya yang sejatinya seluruh alam semesta konon dapat termuat dalam perutnya! Itulah perlambang 'manunggaling kawula gusti' atau menyatunya jagad makrokosmos dan mikrokosmos dalam kehidupan  manusia. Hanya mereka yang telah mengerti dan memahami dirinya yang dapat selamat dari godaan hidup di dunia sekaligus menyelamatkan diri dan dunianya.

Demikianlah peranan kisah wayang, antara lain sebagai pengingat bagi penikmat agar tak larut terlena dengan lezatnya dunia hingga melupakan tujuan utama misi hidup untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya, yang diwujudkan dalam upaya menebar kebajikan dan membasmi angkara murka sepanjang hidupnya di dunia. Sebuah konsistensi ucap, sikap dan perbuatan yang dalam istilah Islam disebut 'amar ma'ruf ' dan 'nahyii munkar'. Begitulah Bhima yang digambarkan berwatak jujur, lugas, lurus, teguh, berani, tak kenal takut dan tak pernah tunduk atau merendahkan diri di hadapan siapapun, perkasa lagi konsisten dalam memegang nilai yang ia yakini sebagai kebenaran. Bhima sebagai tokoh wayang adalah bayangan sosok ideal yang bisa diteladani siapapun yang hendak mempersonifikasikan dirinya dengan watak kejujuran, keteguhan, dan keberanian.


* * *

Narayana merebah telentang di padang rumput hijau nan luas, sejenak beristirahat melepaskan kepenatan, mengusir letih dan lelah dari kerja seharian, membebaskan diri dari tugas penggembalaan dan membiarkan ternaknya menikmati kemerdekaan merumput di alam bebas. Hembus lirih angin sepoi-sepoi mengelus dan berbisik lembut menerpa wajahnya semilir dan membuai. Narayana dalam sekejap terpejam mata dan tertidur lelap. Gemericik air sungai yang memercik bebatuan tak jauh di kaki bukit, bagai alunan melodi seruling yang menyanyikan gita meninabobokan.

* * *

Wayang sebagai ekspresi kesenian bagai sumber mata air jernih segar yang memancar tanpa henti tiada habisnya. Wayang sebagai sarana pengajaran bersifat fluida yang orisinal dan autentik, meski sumber kisahnya sendiri berasal dari berbagai pancar mata air yang berbeda, yang meresap basah tanah, lalu menyelusup gembur dan berbaur di kelok selokan yang menuntun ke cabang anak sungai yang mengalir menderas, mencari jalan bebas dan merdeka hingga tiba di laut lepas dan masih terus mengarungi samudera sampai mencapai negeri di belahan lain dunia.

Anakan sungai yang lain melintasi terjal curam indah liku pegunungan, menembus sunyi senyap rimbunnya hutan belantara, hingga melanggar tapal batas negara, ketika akhirnya tiba di muara, wayang berlaku bak tenangnya telaga, menampung dan meredam segala larutan dan hanyutan yang ada, mewadahi dengan pengayoman kelembutan jiwa, kemudian memantulkan bayangan jujur dan jernih di cermin bening transparan dalam riak kecil nyaris tanpa gelombang di permukaannya. Inilah saat hati 'berbicara' dengan jiwanya.


Seekor burung elang meluncur tenang, melayang jauh di awan. Bentang sayapnya gagah, melintasi Narayana kecil di bawah. Bayangannya sekelebat membuat Narayana membuka mata, menengadah. Namun hanya sesaat ia tersadar, sebab kantuk lebih dahsyat merayap menghinggapinya. Lagi ia hilang sadar dan kembali mengembara di angan indah mimpinya.

Sebagaimana asal katanya, Wayang bisa berarti bayangan, yakni cermin perilaku manusia, agar kita dalam gulita pekat gelar kelam selimut malam, di sebalik layar gelap terbentang kanvas angkasa nan temaram, masih bisa melihat pijar pelita dan kerlip bintang kecil mengedip manja, secercah hangat asa berpendar di redup cahaya. Harapan selalu ada, hendaknya kita jangan berputus asa. Seperti bintang yang selalu ada dan tetap setia di sana meski tersembunyi di balik hitam gumpalan mega, bayangan juga selalu mengikuti, demikian pula takdir dan nasib yang mengiringi ayunan langkah setiap manusia. Jangan takut akan gelap, jangan menyerah pada nasib, jangan pasrah dan menyalahkan takdir. Manusia berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Nasib dan takdir bergantung pada usaha dan perbuatan kita. Tuhan akan melihat kesungguhan dan ketulusan niat kita. Jika kebaikan yang kita lakukan tentu akan diganjar-Nya dengan kebaikan pula. Begitupun kejahatan akan menuai balasnya. Demikian bak berlaku hukum karma, maka perhatikan perbuatan kita. Manusia hanya harus mengerjakan apa yang semestinya ia lakukan, berpegang pada nilai kebajikan dan kebenaran yang teguh diyakininya, mempersembahkan buah jerih kinerja, Tuhan akan menyempurnakan nilainya. Belajar dari sejarah serta kisah penuh hikmah, cerita wayang bagai gelaran peta atau panduan terbuka bagi siapapun yang ingin memetik pelajaran dan menikmati ranum lagi segarnya buah lezat pengajaran.

Dalam sunyi dan keheningan telaga, ketika kita mulai menemukan kenyamanan, kemapanan, lalu terlena, semoga lamat-lamat kita bisa tetap mendengar merdunya gerojogan bening segar dan alami air terjun di kejauhan, yang dengan dingin menampar kesadaran, menghenyak dan membelalak, membuka mata batin dan mata raga, untuk segera dengan sadar 'berkaca'. Sejenak menoleh ke belakang, jauh sudah langkah diayun, jarak ditempuh, untuk sebuah perjalanan pencarian yang panjang. Sudahkah esensi kehidupan kita dapatkan? Seperti lakon Bima Suci yang mencari Tirta Amerta atau air abadi, merenangi samudera hingga terbenam jauh ke dasar, dengan keteguhan dan kesungguhan usaha yang dilandasi oleh niat mulia dan bakti pada gurunya, akhirnya Bima bertemu Dewa Ruci yang membabarkan kesejatian diri! Itulah seyogyanya yang kita cari!

Hidup sejatinya bukan sekedar sepenggal kisah dalam guratan sejarah. Hidup adalah misi yang diemban yang harus tuntas ditunaikan. Namun hiruk pikuk dan marak ramainya kehidupan yang penuh warna gemilang dan menyilaukan benderang, terkadang bagai sirep yang melenakan, menidurkan kita kala matahari masih terik hingga mampu tetap menegaskan eksistensi dan jati dirinya dalam keteguhan orisinalitasnya yang lentur, fleksibel bagai air yang senantiasa mengalir, luwes menyesuaikan diri dengan wadah di mana saja ia ditempatkan, namun pada saat bersamaan tegar bertahan tegak terpancang bagai batu karang, di tingkah deras arus globalisasi dan terjangan gelombang budaya asing yang bergulung-gulung dan bergunung-gunung tanpa henti berusaha menghempas kesadaran dan kebanggaan anak-anak negeri, menggerus, mengaduk-aduk, memecah-belah, meminggirkan atau melarung hanyut, hingga menenggelamkan karam budaya lokal di dasar lautan, yang sayangnya, terjadi nyaris tanpa kita sadari.

Wayang adalah hasil olah rasa, karsa, cipta, yang dilandasi ketinggian pemahaman akal dan keselarasan dengan kearifan budi yang menjunjung nilai dharma, pencarian kesejatian yang melahirkan watak ksatria agung di setiap zaman, memahat kuat karakter dan terus berevolusi seiring pergerakan zaman dan perputaran roda waktu bagai Cakra Manggilingan yang niscaya berputar menggilir episode demi episode kehidupan, mengawal dan memenggal laju sejarah untuk diganti dengan lembaran baru untuk ditulisi kisah heroik dan romantisme yang mewarnai, berlaku laksana danau biru Nirmala yang tenang lagi jernih, dimana Dewi Anjani, Guwarsa atau Guwarsi, semestinya sarat pesan moral, etika, kebijaksanaan, kekayaan intelektual yang bagai sumur Jalatunda, kedalaman filosofisnya nyaris tak terukur, seperti harta karun amat berlimpah yang menanti untuk digali dan ditemukan.

Kisah wayang seumpama telaga segar dengan serumpun kebun menghijau di padang pasir yang luas panas kerontang, pembasuh kekeringan jiwa yang rapuh, penyegar gairah yang telah memudar, pembakar semangat hidup supaya tetap menyala dan berkobar, pemuas dahaga akan kisah yang sarat petuah, bukan sekedar tontonan biasa tapi juga tuntunan yang luar biasa!